Gunung Guntur Garut, (maju dua langkah mundur satu langkah)

Garut adalah salah satu kabupaten yang ada di Jawa Barat yang banyak menjadi destinasi para petualang yang sekedar ingin menghabiskan akhir pekan. Jaraknya yang tidak terlalu jauh dari jakarta sering dijadikan tempat para pendaki yang ingin melepaskan rasa rindu akan mendaki gunung.

Ada beberapa gunung yang ada di Garut antara lain gunung Papandayan, Cikuray, Galunggung dan gunung Guntur. Kali ini saya akan membagikan pengalaman perjalanan ketika naik ke gunung Guntur yang mempunyai ketinggian 2249 mdpl.

Perjalanan dimulai dari jakarta dengan menggunakan bis pada hari jumat malam. Saya dengan rombongan berkumpul di PO bis Primajasa yang berada di Cawang, letaknya berdekatan dengan halte busway BKN. Setiap orang dikenakan biaya Rp. 52.000, kami mendapat bis terahir tujuan Garut pukul 23.00.

Perjalanan ke Garut menghabiskan waktu sekitar 5 jam dan itupun tanpa macet. Turun di pom bensin Tanjung yang terletak sebelum terminal guntur, sabtu pukul 4.00 pagi dan langsung membeli kekurangan perlengkapan logistik di indomart yang berada di depan pom bensin Tanjung.

Sambil menunggu terang, rombongan beristirahat sejenak dan menunaikan ibadah sholat subuh di masjid yang ada di dalam pom bensin. Disini pula terdapat banyak mabil pick up yang dapat membawa kita ke pos pendakian gunung Guntur.

Tepat setelah subuh, kami meneruskan perjalan ke pos pendakian dengan tarif Rp 10.000 – Rp 20.000 per orang tergantung nego dengan pemilik mobil pick up. Tidak lebih dari satu jam kita sampai. Setelah mengurus izin pendakian dan mengisi perut untuk tambahan tenaga kita memulai tracking pada pukul 7.00 pagi. Perizinan pendakian harus menjaminkan salah satu KTP rombongan yang kemudian mendapatkan simaksi yang harus dilaporkan ketika sampai di pos 3. Pembayaran administrasinya berada di sebuah pos rumah kecil yang akan ditemui setelah berjalan 5 menit dari basecamp.

Perjalanan dimulai !
Track awal masih landai dengan jalanan bebatuan kasar melewati beberapa tambang batu lengkap dengan berbagai alat beratnya sebelum masuk ke kawasan hutan rindang. Dari pos 1 sampai pos 2 jalanan masih landai dengan sedikit menanjak melewati beberapa warung milik warga dan sungai. Dari pos 2 ke pos 3 jalanan sudah keluar dari hutan, kemudian melewati track bebatuan yang menanjak curam dan cukup melelahkan ditambah track ini tidak tertutup oleh pohon-pohon. Jalanan kembali landai menanjak melewati sabana yang berwarna kemerahan sebelum sampai di pos 3. 
Sekedar info, berdasarkan kejadian-kejadian buruk yang terjadi pada pendaki-pendaki sebelumnya, banyak yang jatuh di track pos 3 menuju puncak 1 maka komunitas volunteer gunung Guntur mewajibkan semua pendaki untuk ngcamp di pos 3 dan selebihnya ketika akan summit ke puncak dapat menitipkan carier dan barang-barang lain di basecamp pos 3 agar aman dari tangan-tangan nakal.
Pukul 11.00 kita sampai juga di pos 3 kemudian segera melaporkan kertas simaksi dan disini kembali dimintai data dengan menitipkan satu lagi KTP dari anggota. Mungkin ini bagian dari pengamanan pendakian gunung Guntur. Bagaimana juga kita sebagai pendaki yang bertanggung jawab harus mengikuti aturan-aturan itu. Kami mulai mencari lahan untuk mendirikan tenda di sekitar pos 3. Sebagian besar lahan di tempat ini mempunyai kemiringan tertentu jadi harus pintar-pintar mencari tempat yang nyaman. Selain itu tidak usah khawatir tentang masalah air, karena di sebelah kiri basecamp pos 3 terdapat sungai yang lumayan besar.

Siang dan sore pun berlalu aktivitas kami sama dengan para pendaki lain yaitu memasak dan menikmati pemandangan yang disuguhkan. Pemandangan malam pun tak kalah cantiknya, semakin malam semakin banyak kerlap-kerlip lampu kota Garut yang tampak indah dari kejauhan. Sebelum akhirnya kita memutuskan untuk istirahat.

Minggu pukul 3.00 pagi buta, semua anggota rombongan bangun untuk summit ke puncak dengan membawa logistik seperlunya dan sisan barang dititipkan di basecamp pos 3. Track dari pos 3 menuju puncak 1 didominasi batuan dan kerikil-kerikil dengan kemiringan yang curam, mungkin ini yang banyak orang bilang Semerunya jawa barat. Jalur bebatuan ini terbentuk dari bekas air atau lava sisa letusan-letusan beberapa tahun silam. Banyaknya kerikil bebatuan ini benar-benar sangat menguras tenaga menjadikan kita seakan-akan jalan di tempat karena ketika kita melangkahkan kaki dua langkah kemudian dengan sendirinya mundur satu langkah, seperti ini terus sepanjang jalur. Harus benar-benar pintar memilih jalan mana yang harus ditapaki, salah-salah malah rawan untuk jatuh. Belum lagi kemiringan track yang sangat curam menjadikan para pendaki harus ekstra hati-hati.

Setelah 3 jam berkutat di track ini, akhirnya pada pukul 6 pagi kita sampai di puncak 1 gunung Guntur. Puncaknya menyuguhkan pemandangan sabana ilalang pendek cantik berwarna kemerahan yang diperindah dengan terbitnya matahari dari ufuk timur. Selain itu gagahnya gunung Cikuray dan gunung Papandayan terlihat dari puncak 1 ini. Benar-benar perjalanan yang mengesankan dengan track yang menakjubkan.


Saran bagi para pendaki yang ingin mencoba ke gunung Guntur ini dihimbau
– Mengikuti semua peraturan yang telah dibuat oleh komunitas volunteer gunung Guntur.
– Memakai sepatu dan perlengkapan pendakian yang lengkap untuk keamanan dan kenyamanan.
– Berjaga bergantian pada malam hari guna menghindari orang-orang yang bermaksud tidak baik.
– Tips untuk turun dari puncak 1 dengan melewati jalur bekas air itu dengan cara bergandengan tangan untuk mempercepat langkah serta sebagai tumpuan agar mendapat keseimbangan.

Sekian pengalaman saya, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca.

1 comment: