HUTANG PUNCAK SEJATI GUNUNG RAUNG “SUMMIT ORA MUNCAK” PART I

Desember waktunya liburan bukan? Waktunya seneng-seneng? hmmm, mungkin sebagian jawaban mereka adalah iya. Memang, pada bulan desember banyak orang yang merencanakan liburan karena ada beberapa tanggal merah di bulan ini dan bersamaan pula dengan libur sekolah. Selain itu, sebagai puncaknya adalah pergantian tahun yang keramaiannya selalu dinantikan banyak orang.

Well, tidak mau kalah dengan mereka saya juga merencanakan liburan untuk bulan desember dari tiga bulan sebelumnya karena berkaitan dengan pemesanan tiket kereta dan pengajuan cuti akhir tahun. Saya memutuskan mengikuti sebuah open trip ke Gunung Raung via Kalibaru pada tanggal 22 sampai 26 desember 2016.

Gunung raung merupakan  gunung api kerucut yang terletak di ujung timur Pulau Jawa. Secara administratif, kawasan gunung ini termasuk dalam wilayah tiga kabupaten di wilayah Besuki, Jawa Timur, yaitu Banyuwangi, Bondowoso, dan Jember. Secara geografis, lokasi gunung ini berada dalam kawasan kompleks pegunungan Ijen dan menjadi puncak tertinggi dari gugusan pegunungan tersebut. Dihitung dari titik tertinggi, Gunung Raung merupakan gunung tertinggi kedua di Jawa Timur setelah Gunung Semeru, serta menjadi yang tertinggi keempat di Pulau Jawa. Kaldera Gunung Raung juga merupakan kaldera kering yang terbesar di Pulau Jawa dan terbesar kedua di Indonesia setelah Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat. Terdapat empat titik puncak, yaitu Puncak Bendera, Puncak 17, Puncak Tusuk Gigi, dan, yang tertinggi Puncak Sejati dengan ketinggian 3.344 mdpl.

Singkat cerita, dua minggu sebelum keberangkatan terjadi masalah dalam grup open trip yaitu guide yang mengadakan acara ini tiba-tiba menghilang dari peradaban. Ini membuat saya dan 19 teman satu grup yang lain menjadi kesal karena kita telah membayar dp pembayaran. Rencana untuk menapaki atap kedua jawa timur menjadi berantakan padahal tiket kereta sudah dipesan dan cuti pun sudah diterima. Akhirnya kami mendapat alternatif lain dengan menemukan guide baru dengan harga sama dengan open trip sebelumya. Tapi tidak selesai disitu, karena ada sebagian anggota grup yang merasa kecewa ataupun punya agenda lain yang lebih penting ada lima orang yang mengundurkan diri dari trip ini. Fix, 15 orang yang jadi ikut ke jalan-jalan ke Gunung Raung yang berasal dari berbagai daerah.

Selasa, 20 Desember 2016

Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Pada tanggal 20 desember kami yang sama-sama dari Jakarta berkumpul di stasiun Pasar Senen selepas dhuhur. Saya dan enam orang lain yaitu Arum, Bintang, Ucup, Rizki, Fajar dan bang Wiwid menaiki kereta yang sama yaitu kereta Brantas pada jam 16.00 yang berahir di stasiun Kediri. Untuk menuju Kalibaru Banyuwangi tidak ada kereta langsung kesana jadi kita harus transit dan pindah kereta menuju Banyuwangi. Kita memilih kereta Brantas karena harganya yang masih sangat murah dan sesuai dengan jadwal transit kami di Madiun keesokan subuh. Sebenarnya banyak alternatif kereta ke Banyuwangi dari Jakarta seperti transit di stasiun Surabaya, Jogja atau Malang kemudian dilanjutkan dengan kereta lain menuju Bnyuwangi.



Perjalanan dengan kereta dimulai

Tepat pukul 16.00 kereta Brantas memulai perjalanan, kita tidak duduk dalam satu tempat yang sama melainkan berpisah-pisah di lain gerbong. Sementara saya duduk berdekatan dengan Arum dan Bintang. Ada seorang teman, Hasan yang akan naik kereta Brantas juga dan naik dari stasiun Pekalongan. Sepanjang perjalanan saya lewati dengan tidur, membaca buku dan mengobrol. Depan saya persis ada seorang Ibu yang akan pulang kampung, saya lupa menanyakan nama beliau. Ibu ini akan turun di Madiun juga barengan saya dan teman-teman. Tidak terasa hari mulai gelap dan perut juga mulai lapar, jadi kami mulai membuka bekal untuk makan malam. Ibu ini yang sudah duluan makan, menawarkan tumis ikan tongkol yang dicincang. Tanpa pikir lama, kami mengiyakan tawaran tersebut. Rasanya enak, gurih dan agak sedikit pedas dan ini bisa banget jadi referensi untuk bekal lauk jadi untuk mendaki karena olahan tongkol cincang ini dapat bertahan lumayan lama. Mungkin suatu saat saya akan mencoba membawa lauk ini untuk ke Gunung. Setelah selesai makan, waktu kita habiskan untuk merangkai mimpi dalam kereta sampai waktu subuh dan sampai di staisun Madiun.

Rabu, 21 Desember 2016

Alhamdulillah, kita tidak ‘bablas’ dan dapat turun di stasiun Madiun pada waktu subuh. Waktu kita transit adalah sekitar lima jam sebelum melanjutkan ke Kalibaru dengan kereta Sri Tanjung. Waktu jeda ini kita manfaatkan untuk menikmati sedikit kuliner kota Madiun yaitu nasi pecel. Nasi dengan campuran sayuran dengan sambel kacang yang ditambah daging ayam atau telur dadar. Selain harganya yang murah, rasanya juga enak apalagi dimakan pada hari dalam keadaaan yang lapar. Sangat pas. Setelah setelah makan, kami segera mencari lapak untuk istirahat dan setelah jalan kaki sekitar 10 menit kita menemukan masjid untuk bersih-bersih dan sejenak istirahat.


Tepat pukul 10.00 kami berdelapan sudah ada di stasiun Madiun dan menunggu kedatangan kereta Sri Tanjung. Perjalanan kereta ke Kalibaru memakan waktu lumayan lama yakni sekitar 10 jam. Ceritanya pun sama kami makan, tidur, ngobrol, membaca buku dan tidur lagi. Selalu begitu menghabiskan waktu lama dalam kereta. Kereta Sri Tanjung berangkat dari Lempunyangan menuju Banyuwangi Baru dan ternyata ada beberapa teman naik kereta ini juga yaitu Savero, Bang Hafidz dan Bang Dwi. Genaplah kita bersebelas dalam satu kereta menuju Kalibaru, eh salah berganjil maksudnya.

Sesampainya di Kalibaru kami masih menunggu 4 orang lagi yang berangkat dari Malang dengan Kereta Tawang Alun yang sampai sekitar jam 22.00 yakni bang Ndut, Haqi, Irul dan Huda. Setelah personil lengkap yaitu 15 orang kita langsung menyewa jasa ojek ke Basecamp Pak Suto dengan perjalanan sekitar 15 menit.


Basecamp Pak Suto merupakan tempat istirahat para pendaki yang mau mendaki gunung Raung. Rumah ini disulap menjadi sebuah tempat dengan tatanan karpet pada bagian depan, tengah dan belakang agar memudahkan pendaki untuk beristirahat dengan menyediakan tempat yang luas. Selain itu juga terdapat berbagai pajangan foto-foto pendaki di puncak sejati gunung Raung yang memenuhi dinding-dinding rumah serta stiker-stiker yang ditempel di jendela dan depan rumah. Bagi pendaki yang belum cukup dalam logistik juga tidak perlu khawatir karena di basecamp ini juga terdapat warung yang menjual berbagai makanan dan keperluan lain.

Dan semua orang tidur pulas untuk memulai hari baru pada besok pagi.

Kamis, 22 Desember 2016

Disaat semua tertidur dua orang guide yang kita sewa ternyata telah datang dan menginformasikan bahwa kita tidak dapat memulai trekking pada pagi hari karena jembatan menuju Pos I Pos Pak Sunarya sedang diperbaiki sehingga perjalanan dapat dimulai seusai dhuhur. Waktu pagi di basecamp kita pakai untuk mulai berkemas-kemas ulang dan mengelompokkan jenis logistik yang sama serta membaginya ke seluruh personil. Tidak lupa kami lebih memilih lauk yang sudah jadi dan awet untuk menu makanan nanti malam.
 

Ketika akan berangkat kami yang tadinya berlima belas bertambah lagi satu personil yang datang ke basecamp Pak Suto sendirian, Alberto. Matahari telah tinggi dan setelah menjalankan ibadah sholat dhuhur dengan menggunakan ojek lagi kita diantar ke Pos I dan memulai trekking pada jam 13.30.

And let the journey begin!
Perjalanan awal selama kurang lebih setengah jam kita disuguhi oleh kebun kopi yang tertata tidak begitu beraturan dengan kemiringan yang masih lumayan. Setelah itu kita akan memasuki dalam hutan lebat yang masih sangat asri dengan kemiringan yang lebih dari trek awal. Saya kurang memperhatikan waktu sampainya di pos 2 dan pos 3 karena terdapat banyak pos-pos bayangan yang menjadikan kita seperti di beri harapan palsu. Tetapi akhirnya pada saat hari mulai gelap kita sampai di pos 4 pada pukul 18.00 dengan diiringi hujan dan gerimis serta angin yang lumayan. Hutan pada gunung Raung masih sangat asri dan jangan kaget Apabila menemukan banyak tanaman berduri yang menghiasi sepanjang trek. Saran juga untuk memakai gaiter untuk melindungi kaki dari pacet dan minyak kayu putih untuk membasahi telapak tangan agar tidak digigit pacet. Keadaan yang hujan dan tumbuhan yang sering menutupi jalur trek membuat kita sangat mudah untuk ditempel oleh pacet. Kadang secara tidak sadar, pacet sudah menempel di kaki atau di tangan degan posisi yang sudah mengembung atau menghisap banyak darah. Mengerikan bukan?

Lupakan tentang pacet. Sebagian mendirikan dan ada sebagian lagi memasak air untuk sekedar menghangatkan tubuh. Tap ada pula yang memasak untuk makan malam. Setelah semua selesai, kembali semua personil tertidur pulas untuk bangun summit pada keesokan harinya pada pukul 2 dini hari dengan diiringi. Cuaca malam di pos 4 dibarengi dengan gerimis kecil dan badai angina yang lumayan membuat suara gemuruh. Tapi lelah tetaplah lelah, kami harus memanfaatkan waktu untuk tidur dan mengumpulkan tenaga untuk summit.

Jumat, 23 Desember 2016

Alarm yang sudah terpasang pukul 02.00 ternyata lewat begitu saja. Kami mulai bangun pukul 03.00 dan mulai bersiap-siap sambal memasak sarapan persiapan summit yaitu menghangatkan nasi dan memakai lauk-lauk jadi yaitu, gorengan usus, orek tempe dan lain-lain. Setelah semua selesai kami mulai trekking dan membawa perbekalan secukupnya untuk di perjalanan.

Dominasi medan sama dengan awal trekking dengan sedikit perbedaan pada kemiringan yang lebih curam. Singkat cerita, kita sampai di pos 7 pada pukul 07.00 dan istirahat lumayan lama karena terdapat spot-spot untuk mengambil gambar. Cukup lama kami istirahat di pos 7 dan melanjutkan perjalanan kembali ke pos 9 selama sekitar 3 jam dengan trek yang sangat berbeda yaitu melewati punggungan tebing yang berbatasan langsung dengan jurang. Vegetasi pun sudah mulai jarang dan pepohonan sudah mulai pendek. Parahnya lagi perjalanan kita menuju pos 9 diiringi dengan badai angin dan kabut serta kadang diterjang dengan hujan embun. Kadang kita harus berlindung dibalik tebing untuk menghindari badai angin sebelum melanjutkan perjalanan melewati jalur tanpa pepohonan.


Setelah istirahat sejenak di pos 9 kami melanjutkan perjalanan menuju puncak pertama yaitu puncak bendera yang berjarak sekitar 15 menit dari pos 9. Pada puncak bendera adalah batas vegetasi pada gunung Raung yang didominasi bebatuan yang membentuk tebing. Sayangnya dewi fortuna tidak berpihak pada kita waktu itu. Cuaca pada puncak bendera sangat tidak bersahat yakni terjadi badai angin yang diselimuti kabut tebal sehingga menjadikan kami tidak meneruskan perjalanan ke puncak sejati yang telah kita impi-impikan. Sebagian besar personil kecewa karena untuk menuju gunung Raung banyak yang berkorban waktu, tenaga dan materi. Akhirnya sebagian waktu dihabiskan untuk mengabadikan memori dengan berfoto-foto.

Banyak pelajaran yang dapat diambil dari perjalanan yaitu kita hanya berencana tapi tetap Tuhan yang menentukan. Ini hanya sebagai gambaran perjalanan singkat dan tentunya banyak hal-hal mendetail yang belum dapat saya sampaikan satu persatu. Tentang hutang kami kepada puncak sejati semoga dapat terbayarkan suatu saat nanti. Kami tidak mendapatkan puncak sejati tapi kami mendapatkan lebih dari itu yaitu sebuah keluarga baru. Terima kasih untuk kerjasamanya, untuk kekompakannya dan untuk segala yang pengalaman yang akan saya rindukan untuk mengulanginya lagi. Terima kasih pasukan “summit ora muncak”. Saya tunggu perjalanan lain bersama kalian.

Saran bagi kalian yang akan mendaki Gunung Raung:

Persiapan jadwal yang matang, terlebih bagi pekerja yang mempunyai batas libur.
Memakai guide atau pemandu yang terpercaya.
Manajemen waktu yang baik dalam pendakian.
Memilih bulan yang bagus atau bukan bulan penghujan.
Membawa peralatan safety dan membawa gaiter mengingat banyak pacet dalam trek terlebih pada musim hujan.
Persiapan fisik dan mental
Salam lestari !


To be continued, tunggu cerita selanjutnya yaa !




From : Irsalina Ikrimah @https://sepatulusuhku.wordpress.com


No comments:

Post a Comment