PUNCAK GUNUNG PANGRANGO DENGAN SEGALA KEELOKANNYA

Refresh dengan naik gunung? Mungkin sebagian berpikir bahwa naik gunung bukan untuk refresh otak tapi malah bikin capek. Well, sebagian ada benarnya tapi sebagian besar kalau menurut saya salah. Mengapa? Bagi pekerja seperti saya yang setiap hari berkelut dengan pekerjaan, deadline dan belum dengan tugas-tugas lain serta tidak selalu libur kerja jatuh pada weekend maka refresh seperti ini yang saya perlukan. Refresh yang membuat capek dengan naik gunung.

Naik gunung termasuk dalam kegiatan olahraga outdoor dengan segala tantangannya dimana ketika berkeringat tubuh akan menghasilkan suatu hormon yang menjadikan rileks. Ini salah satu alasan mengapa saya merefresh jiwa raga dengan mendaki gunung.

Gunung Pangrango masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yanga ada di Cibodas. Pintu masuk ke Gunung Pangrango ada 3 yaitu jalur Gunung Putri, jalur Salabintana dan jalur Cibodas. Saya dan dua teman memilih jalur Cibodas untuk menuju ke Gunung Pangrango karena jalur ini merupakan jalur terdekat dan efisien untuk ke puncak Gunung Pangrango.

Berangkat pada hari jumat dini hari dari Jakarta menuju dengan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang sudah masuk dalam Kabupaten Cianjur dengan sorang teman bernama Lukman. Pada waktu subuh kami sampai dan mampir ke warung untuk melengkapi keperluan logistik sembari menunggu seorang teman lagi yang juga berangkat dari Jakartayang bernama Agung. Waktu subuh harusnya dapat dimanfaatkan untuk melakukan sesuatu tapi karena lelah dari perjalanan panjang sekitar 3 jam dengan menggunakan motor saya dan lukman pun istirahat sampai jam 10 pagi saat Agung datang. Setelah itu kami kembali membagi-bagi perlengkapan dan logistik sampai jam 12 siang.


Pada minggu itu ternyata ada acara Running Gunung Gede Pangrango sehingga kami terancam tidak dapat mendaki. Untungnya kami mendapat bantuan dari seorang teman sehingga memudahkan kita untuk menembus pintu masuk TNGGP.


And let the journey begin! kami mulai trekking pada jumat siang jam 12. Langkah demi langkah kami lalui mulai dari pertigaan yang membagi jalan ke puncak gunung dengan air terjun Cibereum kemudian pos-pos yang saya tidak hafal namanya, air terjun panas, pos Kandang Batu dan yang menjadi tujuan untuk kami berkemah yaitu pos Kandang Badak. Setengah perjalanan kami diiringi dengan hujan deras dan gerimis jadi jangan lupa untuk membawa pakaian ganti secukupnya dan jas hujan.

Sebelumnya memang kami sempat berdebat tentang tempat yang akan kami singgahi untuk berkemah. Salah satu dari kami menginginkan kemah di lembah Mandalawangi tapi karena keterbatasan waktu yang menjelang gelap hari itu dan tenaga saya pula yang sudah tidak mampu berjalan jauh maka akhirnya kami tetap mendirikan tenda di pos Kandang Badak pada pukul 6 sore hari.

Pos Kandang Badak adalah tempat berkemah bagi para pendaki yang akan menuju ke punvak Gunung Gede atau puncak Gunung Pangrango. Setelah pos Kandang Badak ada pertigaan dengan penanda jelas untuk menuntun para pendaki ke puncak Gunung Gede atau Gunung Pangrango. Fasilitas di pos Kandang Badak juga termasuk ‘mewah’ bagi kami karena sudah ada toilet lengkap dengan wc, mushola, mata air bersih yang sangat mudah didapat dan ada penjual nasi uduk, gorengan, berbagai kopi jika pada waktu akhir pekan.

Setelah mendirikan tenda, masak dan makan malam akhirnya tanpa piker panjang kami langsung istirahat dengan menyetel alarm jam 1 untuk siap-siap summit pada jam 2 dini hari. Selamat istirahat!

Krikk krikk krikk …

Alarm jam 1 lewat ternyata, kami bangun lewat setengah jam dan mulai mengisi perut serta packing apa yang harus dibawa. Jam 2.30 kami mulai summit dengan udara yang begitu dingin. Kami bertiga belum ada yang pernah ke puncak Pangrango sebelumnya. Tapi lagi-lagi kami dimudahkan, banyak penanda berupa potongan bendera Indonesia di jalur menuju puncak. Dibarengi dengan para pelari running gunung yang berpapasan. Cukup melegakan karena ternyata kami adalah satu-satunya kelompok yang summit pada pagi itu dengan adanya pelari-pelari ini membuat kita tidak sendirian. Jalur dari pos Kandang Badak menuju puncak Pangrango sangatlah melelahkan, terdapat banyak pohon-pohon yang tumbang sehingga menutupi jalur. Belum lagi jalur yang menanjak curam sehingga mengharuskan kita sangat berhati-hati memilih jalur dan mencari jalur dengan penanda bendera Indonesia karena aka nada persimpangan yang akan kita adalah jalur menuju puncak.

Alhamdulillah, dengan diiringi badai angin kita sampai dipuncak Pangrango pada jam 6 pagi. Tak lupa kami berfoto-foto sembari menikmati pemandangan Gunung Gede yang terlihat begitu dekat dengan kawahnya. Kami melanjutkan kembali mampir ke lembah Mandalawangi yang berjarak sekitar 5 menit dari puncak Pangrango. Lembah Mandalawangi seperti Alun-alun Surya Kencana Gunung Gede yang berisi tanaman Edelweis yang dikelilingi bukit disekitarnya. Sayangnya, pada bulan desember ini, bunga Edelweis belum sempurna. Tapi tetap saja saya lansung jatuh cinta dengan tempat ini. Padang Edelweis yang berdampingan dengan pohon cantigi yang berdaun masih agak kemerahan, so perfect moment. Setelah kami rasa cukup, kita mulai menuruni gunung kembali ke pos Kandang Badak karena puncak terjadi badai angina dan itu sangat dingin.

Itulah perjalanan kami ke puncak Gunung Pangrango dengan segala keindahannya dan beberapa keanehan yang tidak bisa saya ceritakan satu persatu. Persiapan fisik sangat perlu mengingat jalur ke puncak tidak mudah. Jangan lupa untuk membawa turun sampahmu karena sampah di gunung adalah masalah kita bersama. Salam lestari!

Jalur Cibodas

Basecamp Cibodas – Pos Kandang Badak               = 6 jam

Pos Kandang Badak – Puncak Pangrango                = 3,5 jam



No comments:

Post a Comment