10 Filosofi Mendaki Gunung yang Akan Mengubah Hidupmu 180 Derajat


Bukan tentang sampai ke puncak tapi tentang menaklukan diri sendiri
Published by Yulio Victory untuk https://life.idntimes.com/

Mendaki gunung adalah kegiatan yang paling banyak diminati anak muda. Selain bisa merasakan keindahan langka di puncak gunung, mendaki gunung juga bisa melatih fisik dan mental. Tak hanya itu saja, sadarkah kamu bahwa mendaki gunung juga mengajarkan kita tentang filosofi hidup, lho.

Apa saja? Berikut adalah serangkaian filosofi naik gunung yang berkaitan dengan perjalanan hidup!

1. Sebelum mendaki, kamu harus menetapkan tujuan terlebih dahulu, mau sampai puncak gunung atau tidak. Begitu pula dalam hidup.


 Tujuan orang mendaki gunung berbeda-beda. Kamu harus mampu menilai kemampuan diri sendiri serta keinginan yang kamu miliki. Mendaki gunung tidak harus sampai puncak, kamu bisa saja nge-camp di separuh jalur pendakian, seperti di Ranu Kumbolo yang ada di Gunung Semeru.

Hidup itu seperti naik gunung. Sebelum melakukan sesuatu, kamu harus menetapkan apa tujuan hidupmu. Tidak perlu mencontoh orang lain, tetapkan sesuatu yang kamu yakin bisa capai. Serta kamu harus tahu apa yang benar-benar jadi keinginanmu yang akan membuatmu bahagia.

2. Siapkan rencana. Mulai semua peralatan dan kondisi tubuh demi mampu mencapai target yang ingin kamu gapai.


Mendaki gunung tak sama dengan berwisata ke taman hiburan. Medan dan situasi yang akan kamu lewati sangat sulit dan tak tertebak. Untuk itu kamu perlu perencanaan yang matang. Mulai dari menentukan waktu keberangkatan, jalur pendakian, titik tempat istirahat, persiapan semua perlengkapan dan memastikan kondisi tubuh yang fit. Mendaki tanpa rencana yang matang bisa membunuhmu, jadi ini bukan perkara main-main.

Dalam menjalani hidup pun begitu. Kita harus selalu memulai langkah dengan perencanaan matang agar semua berjalan dengan baik-baik saja.

3. Kamu bisa mendaki sendirian, namun akan lebih baik jika kamu berjalan bersama teman.


Medan dan situasi yang berat akan terasa lebih ringan kalau kamu memiliki teman seperjalanan. Alangkah baiknya kamu mencari teman yang mau mendaki bersamamu. Sendiri memang membuatmu melangkah lebih cepat, namun bersama teman akan membuatmu melangkah lebih jauh.

Begitu pula dengan hidup. Meski kamu merasa bisa jalan sendirian, percayalah kamu tetap butuh teman atau pendamping untuk menjalani hidup.

4. Kamu akan menyadari bahwa ini bukan tentang menaklukan gunung, tapi menaklukan diri sendiri.



Tantangan dan situasi yang berat akan membuatmu berpikir untuk menyerah. Kelelahan, oksigen yang menipis dan hawa yang dingin, alasan yang cukup bagimu untuk menyerah. Kamu akan sadar, bahwa mendaki bukan tentang menaklukan alam, tapi menaklukan diri sendiri.

Begitu pula dengan hidup. Menjadi hebat bukan tentang menaklukkan dunia dan seisinya, tapi menaklukan ego diri sendiri dan menguasai diri.

5. Mencapai puncak tujuan butuh perjuangan dan pengorbanan. Bukankah perjalanan hidup juga begitu?

Puncak gunung yang jadi tujuanmu mendaki membutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit. Setiap pendaki pasti merasakan hal ini. Tak ada pesawat atau kendaraan yang memudahkan perjalanan.

Sama dengan perjalanan hidup. Tidak ada yang instan di dunia ini. Jika kamu ingin mencapai tujuanmu, kamu harus berusaha dan berjuang untuk ke sana. Akan selalu ada banyak halangan dan rintangan yang harus kamu lewati untuk mencapai puncak kesuksesan.


6. Jika kamu ingin mendapatkan atau melihat sesuatu yang mengagumkan, keluarlah dari zona nyaman.

Gunung bukan merupakan zona nyaman bagi setiap orang. Perjalanan ke puncak gunung dan mendapatkan pemandangan indah itu butuh proses yang tak gampang. Mendaki gunung menunjukkan kamu berani keluar dari zona nyaman dan meninggalkan kemudahan hidup saat di perkotaan.

Sama dengan menjalani hidup. Kesuksesan selalu datang bagi orang yang berani keluar dari zona nyaman. Kesuksesan adalah milik orang yang menerima dan melewati tantangan.

7. Ketahuilah, tubuh kita bukan mesin. Sesekali kita butuh istirahat sejenak.


Saat mendaki gunung kamu akan tahu ada batasan bagi tubuh manusia untuk beraktivitas. Agar perjalananmu bisa sampai puncak, kamu butuh istirahat untuk mengisi ulang energimu.

Begitu pula dalam hidup, di sela-sela kesibukanmu bekerja atau kuliah, kamu butuh mengistirahatkan tubuhmu. Bisa juga liburan, main sama teman-teman atau bercengkrama dengan keluarga. Karena memang, tanpa "istirahat" hidupmu justru tak akan bahagia.


8. Naik gunung membuatmu sadar, ada banyak orang baik di dunia ini yang masih mau menolong.


Saat mendaki gunung, kamu akan menemui dan berpapasan dengan beragam karakter manusia. Namun begitu, satu hal yang pasti bahwa ketika kamu dalam situasi sulit, akan ada orang yang menolong dan membantumu. Entah menawarkan minuman atau hanya memberikan support padamu.

Sama halnya dengan hidup. Dunia ini masih banyak orang baik yang akan menemani perjalanan hidupmu. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang baik dan peduli. Apalagi, jika kamu juga baik pada orang lain.

9. Kamu akan merasa kecil dan tak berdaya setelah sampai di puncak gunung.
Ketika sampai di puncak, ada rasa bahagia di hati. Kamu berhasil melewati semua rintangan untuk sampai di sini. Rasa puas ini hanya akan berlangsung beberapa menit, berikutnya kamu akan sadar bahwa kamu hanyalah titik kecil di dunia yang begitu besar dan luas. Ada rasa syukur atas semua nikmat yang diberikan Tuhan.

10. Kamu memahami makna pulang ke rumah. Keluarga adalah segalanya.


Tujuan mendaki gunung bukanlah mencapai puncak, namun pulang ke rumah dengan selamat. Selama di gunung kamu akan sadar, bahwa rumah adalah tempat terbaik yang memberimu perlindungan dan kehangatan, hal yang tidak kamu dapat selama di gunung. Ini akan membuatmu lebih menghargai arti rumah, selalu berusaha untuk pulang ke rumah, tempatmu berasal. Jadi apapun kamu nanti, keluarga adalah tempat kembali.

Mendaki gunung sama dengan menjalani hidup. Kamu butuh kerendahan hati, konsistensi, strategi dan keteguhan niat untuk sampai pada apa yang kamu inginkan.

1 comment: