EXPENA

Expedisi Penikmat Alam Nusantara-Perkumpulan Manusia Berjiwa Muda, Haus Akan Petualangan, Pendakian, Sebagai Penikmat serta Pecinta Alam Nusantara

Monday, March 6, 2017

Hajriah Fajar dalam Kemping Ceria Suaka Elang Bogor

| No comment
Mungkin Perlu diketahui, Pada mulanya perjalanan ini di namakan Road To 453 Alesano hill, Mengingat perjalanan dilaksanakan pada tanggal 4-5 di bulan 3 (Maret) dengan destinasi ngecamp nya ialah alesano hill (Bukit Alesano) namun karna satu dan lain hal,  ngecamp di bukit alesano pun dibatalkan dan beralih ke bumi perkemahan Suaka Elang yang berlokasi di kampung Loji, Cigombong Bogor, tidak jauh dari destinasi Awal.

Perjalanan Sendiri dimulai pada hari sabtu tgl 4 Maret 2017, dijadwalkan Jam 8 pagi dan ngaret hingga pukul 09.00 WIB baru bertolak dari meeting point di Area Kantin RSIJ Sukapura.
Untuk memberikan kesempatan bagi yang tidak bisa berangkat pagi, maka kami membagi waktu perjalanan menjadi tiga gelombang,

1. Gelombang pertama seperti yang sudah dijelaskan, dijadwalkan pukul 08.00 WIB
2. Gelombang Kedua Pukul 14.00 WiB
3. Gelombang ketiga Pukul 17.00 WIB

Dari Ketiga Gelombang Tersebut, Saya masuk Gelombang Tiga, dan Sudah jelas gelombang terakhir biasanya akan lebih sedikit anggotanya.
Dan benar saja hanya menyisakan 2 orang dengan kata lain satu motor, ya satu motor, itupun terpisah jarak, satu di jakarta dan satunya (saya) dibogor, namun bagusnya acara kemping ceria ini juga berbarengan dengan Kopdar Akbar III Pendaki Bogor dengan tema “Ngariung Mageuhkeun Silaturahmi” karena itulah satu anggota kami harus bertolak dan ikut kopdar tersebut. Karena acaranya sama-sama masih didaerah bogor maka tiada salahnya memberdayakan dia untuk membantu transportasi satu orang yang dari jakarta tadi ke bogor untuk kemudian berangkat bareng saya menuju suaka elang. Dan cara inipun berhasil, kami bertemu dan berpisah di pom bensin sekitar jalan baru bogor, itupun sudah menunjukan pukul 19.53 WIB.

Namun sebelum kembali melanjutkan perjalanan, kami mendapat beberapa pesan via group Whatsapp dari gelombang satu dan dua, bahwa kemungkinan kita kekurangan logistik dan matras, lebih utama matras, mengingat cuaca sedang baik-baiknya turun air terus, namun tak tanggung-tanggung,  matras yang kurang sampai 8 buah, dan mau tak mau itu dibebankan kepada kami peserta terakhir yang hanya satu motor. Membawa dua tas dan dua matras, harus kembali mencari tambahan delapan buah matras, aaaaahhhhhhh. Rasanya gereget sekali.

Singkat cerita sambil melanjutkan perjalanan kamipun dipertemukan oleh paman google dengan “Kedai Shelter” Tempat penyewaan peralatan outdoor daerah bogor tepatnya Jl. Palupuh III No. 33 Pajajaran-Bogor. Alhasil e-ktp pun jadi jaminan.

Dan jika kalian mengalami hal yang sama seperti saya dan posisi masih sekitar Jambu dua, kalian bisa hubungi kedai shelter dengan No. WA/sms 08973330797 atau kunjungi “Kedaishelterbogor.blogspot.co.id” untuk bantuan alamat via google maps.

Perjalananpun kami lanjutkan,  perjalanan dengan semangat bercampur emosi membara juga buta akan arah jalan mana yang harus kami tempuh. Sedikit ide kembali sedikit menenangkan perasaan beremosiku tadi. Om share lokasi om, om share lokasi om, sebuah chat yang terkirim ke group WA berharap peserta gelombang satu dan dua ada yang sadar bahwa kami buta arah dan butuh navigasi segera.

Perjalanan kami lanjutkan setelah mendapat balasan berupa map lokasi tempat mereka mendirikan tenda, suatu hal yang kami tunggu juga merupakan hal yang menarik karena kami diarahkan oleh google map ke jalan yang berbatu, membuat si hitam (julukan untuk kuda besi ku) beberapa kali standing mengangkat roda depannya. Baru disana saya sadar akan sesuatu. Kami, diarahkan bukan pada jalan masuk suaka elang, namun kami diarahkan ke jalan tercepat menuju lokasi pendirian tenda tempat dimana peserta mengirimkan lokasinya pada kami. Mungkin seperti itu cara kerja google map, mencari rute tercepat menuju lokasi yang ditetapkan tak peduli seperti apapun keadaan jalannya, pantas saja banyak yang berasumsi google map suka salah jalur, ternyata bukan semata mata kesalahan pencitraannya namun kitanya yang sering tidak faham bahwa google map itu hanyalah sebuah mesin pencari, dia menunjukan apa yang kita tunjukan/ketik, bukan yang kita maksudkan, Rute yang seharusnya kami lewat kampung loji atau penduduk biasa menyebutnya villa bupati, kami malah lewat Pertigaan Cibadak yang mengantarkan kami pada sebuah jalur berbatu dimana pribahasa maju kena mundurpun kena mulai berlaku. 

Allah SWT  dan pertolongan nya selalu datang bagi mereka yang percaya akan kuasanya, dan disaat keadaan itulah hati kita di uji, antara naik melanjutkan perjalanan ataukah turun kembali mencari rute lain, sedangkan saat itu waktu sudah menunjukan pukul 22.34 WIB, dimana keadaan jalan gelap nan berbatu, satu-satunya penerangan hanya dari lampu motor. Hujan kembali turun, dan saat itulah kami bertemu suami istri dan anaknya yang hendak pulang kerumah, dan setelah sedikit curhat, dia menyarankan kami menitipkan motor dirumahnya dan menunjukan arah ke bumi perkemahan suaka Elang, disitulah saya berucap Alhamdulillah, saya bersyukur atas pertolongan darimu ya Allah. Yah bisa dibilang Rezeki anak Sholeh.

Setelah berpamitan, Perjalanan kami lanjutkan dengan berjalan kaki, yups berjalan kaki dengan membawa dua tas tanpa space, dan sepuluh matras yang diikat sedikit Rapi. Berjalan di kegelapan melintasi perkebuanan penduduk selama kurang lebih 45 menit kami lalui, barulah sampi di loket masuk suaka elang, Kembali Berucap Alhamdulillah. 

Duduk, ngobrol, dan foto bersama penjaga loket sekedar meredakan sakit pinggang, dan emosi yang masih tersisa,  bagusnya si partner perjalananku ini pengertian, dia ngeluarin handphone guna menghubungi peserta yang lain yang sudah sampai, untuk turun dan membantu membawa beberapa barang. 

“Akhirnya sampai juga loo, kirain kagak jadi ngikut” kata pertama yang terdengar setelah sampai di lokasi,  namun ku tak peduli dan sok apatis yang dilakukan hanya sibuk membuka bungkusan nasigoreng yang tadi ku beli di perjalanan, masih sedikit hangat, Entah karena lapar atau lain hal, nasi gorengnya cepet banget habisnya, sambil kuperhatikan diantara peserta sibuk dengan gadget masing-masing, ada yang memasang flysheet, sementara yang lain ada yang sudah tertidur dalam tenda. Akh ku tak peduli dan kulanjutkan makan malam ku yang tertunda ini.

Malam panjang dilewati dengan merencanakan berbagai kegiatan salah satunya pembagian doorprize, berupa kaos dan sebuah topi bertuliskan expena, tak terasa sudah jam 3 pagi, ngantuk namun tak bisa tidur, lalu tiba-tiba sudah pagi,  ooh ternyata aku ketiduran  pula, hahaha,.. 

Pagi menyapa perutku, bukan lapar namun sebaliknya, bagusnya disini bukit perkemahan jadi kebutuhan akan  MCK dan sebaginya sudah tersedia, jadi jangan tanya ada atau tidaknya toilet disini, karna gak tanggung-tanggung toilet nya sampai delapan pintu, jadi nggak kuatir ngantri lama dan bagusnya tidak ada pedagang makanan disini, jadi suasana ngecamp pun lebih berasa, semuanya serba mandiri, dari ambil air di sungai sampai masak nasi, jadi yang pengen ngerasain ngecamp semi anak gunung bisa di coba kesini pokoknya recomended dah, apa lagi disini ada wisata air terjun nya makin seru, tapi jangan salah dan terperdaya yang bilang air terjunnya dekat atau sekitar 30 menitan perjalanan, itu Hoax, tapi ya mungkin saja bagi mereka yang udah terbiasa naik turun trek pegunungan terjal itu bisa dilakukan 30 menitan bahkan kurang, tapi bila untuk saya itu hoax.

Sedikit Info, Tiket masuk yang semalam dibayarkan itu Rp.40.000,- Untuk 2 orang, jadi bila dihitung perorangnya Rp.20.000,- dan untuk Parkir motornya Rp.30.000,- permotor. Berbeda dengan Saya, karna motor dititipkan dirumah penduduk setempat jadi .... ya begitulah.


Persiapan untuk pulang pukul 11.00 siang setelah main air di Curug(Air terjun), Sarapan, Games dan
Doorprize plus ketawa bareng dan godain dia yang baru dikenal juga poto bareng yang digodain, packing selesai, kumpul untuk photo dan do’a bersama lalu turun meninggalkan Suaka Alam.
Namun ada yang janggal disini, Kenapa jadi saya yang terakhir turun. Datang terakhir turun juga terakhir, dan bareng partner yang sama ketika datang terakhir,.. hadeuh, apakah ini takdir.  Ditambah kehilangan jejak peserta lain didepan, yah berdua lagi...

Berdua dengan keadaan handphone lowbate, (maksudnya Baterai hp habis = Handphone mati = gak bisa akses google map = gak bisa balik) tapi tidak masalah, selama banyak orang yang lalu lalang kami masih bisa gunakan GPS (Gunakan Penduduk Sekitar)

Tapi ternyata mereka tidak sekejam itu meninggalkan kawan baiknya ini, di perjalanan yang kami anggap arah benar untuk pulang, kami di arahkan oleh semacam makhluk, untuk berhenti dan singgah di Rumah Makan. Oh.. ternyata ketua rombongan. Selain mereka ternyata nungguin kami juga ngajakin makan siang,  Alhamdulillah, rezeki anak shaleh lagi (Tapi bayar sendiri.. hufh)
Terima Kasih sudah menyimak cerita dari seorang peserta kemping ceria suaka elang, gelombang tiga. Eits ceritanya belum selesai.

Selesai makan, si partner tadi, saya titipkan pada peserta lain yang pulang kejakarta, sementara saya pribadi masih harus ngambil e-ktp yang jadi jaminan penyewaan matras. 

Info, mungkin juga gak ada yang pengen tahu, tapi saya infokan saja. Saya sampai dirumah sekitar pukul 16.30 WIB di hari Minggunya tgl 5 Maret 2017, cuci kaki buka baju, celana dan lain lain yang melekat lalu tidur. Bangun Pukul 20.30 WIB.... dan meriang.

Terima kasih lagi dan sampai jumpa di lain kesempatan. 

Panteng terus hajriahfajar.com  dan expena.web.id jangan dilupa di Like yaa...















Klik Disini Untuk Photo Lainnya

Artikel dari : hajriahfajar@gmail.com / hajriahfajar.com
Tags :

No comments:

Post a Comment