EXPENA

Expedisi Penikmat Alam Nusantara-Perkumpulan Manusia Berjiwa Muda, Haus Akan Petualangan, Pendakian, Sebagai Penikmat serta Pecinta Alam Nusantara

Friday, March 17, 2017

Mengenal Cantigi / Vaccinium varingiaefolium (Bl.) Miq

| No comment
Salah satu tumbuhan  ekosistem hutan tropika sub alpin di daerah pegunungan adalah cantigi (Vaccinium varingiaefolium (Bl.) Miq). Cantigi merupakan tumbuhan ciri khas pegunungan.
Cantigi di Indonesia berasal dari marga Vaccinium, begitu juga di Malaysia. Vaccinium termasuk dalam Famili Ericaceae. Terdapat empat jenis Cantigi yang tumbuh di pegunungan Indonesia, yaitu : V. korthalsii, V. laurifolium, V. lucidum dan V. varingiaefolium.




Nama umum    : Cantigi
Sinonim           : Santigi
Nama daerah   : Indonesia: Manis rejo (jawa), cantigi (sunda), Delima Montak (kalimantan timur)

Klasifikasi

Kingdom                     : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom                : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi                : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi                           : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas                           : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas                    : Dilleniidae
Ordo                            : Ericales
Famili                          : Ericaceae
Genus                          : Vaccinium
Spesies                        : Vaccinium varingiaefolium (Bl.) Miq

Deskripsi
  • Cantigi merupakan tumbuhan tinggi.
  • Dapat tumbuh pada tanah dengan pH yang rendah yaitu  4,5– 5,5 dan hidup pada kondisi tanah yang mempunyai kandungan Alumunium (Al) yang tinggi.
  • Tumbuhan dari suku Ericaceae ini mempunyai perawakan semak sampai pohon, tinggi dapat mencapai 10 m dan batang dapat mencapai panjang 50 cm sebelum pada akhirnya bercabang banyak dan membentuk tajuk yang bagus. Kayunya sangat keras.
  • Vaccinium varingiaefolium (Bl.) Miq memiliki ciri utama berupa perdu yang selalu terestrial, sering berbentuk sapu, kebanyakan benjol-benjol dan bengkok, diameter hingga 50 cm, kayu sangat keras, panjang daun 2,5-6 cm, lebar 1-2,5 cm, buah dapat dimakan dengan rasa yang agak hambar, tahan terhadap asap belerang dan tanah kawah beracun.
  • Akar berupa akar tunggang yang bercabang (Ramosus), berbentuk kerucut panjang, tumbuh lurus ke bawah, bercabang-cabang banyak dan cabang cabangnya bercabang-cabang lagi, sehingga dapat memberi kekuatan yang lebih besar kepada batang dan juga daerah perakaran menjadi amat luas sehingga tumbuhan tumbuh kokoh.
  • Daunnya agak tebal, bentuk jorong sampai lanset. Daun mudanya berwarna kemerahan, kemudian akan berubah menjadi orange, kekuningan dan akhirnya hijau. Tangkai daun berwarna merah, daun muda berwarna ungu kemerahan, daun tua berwarna hijau. Daun-daun Vaccinium varingiaefolium (Bl.) Miq yang tumbuh pada daerah dekat dengan sumber emisi (kawah) akan memiliki indeks stomata yang tinggi. Artinya, jumlah selnya bertambah dengan ukuran yang lebih kecil.
  • Perbungaannya di ujung, berbentuk malai. Bunganya kecil, berwarna ungu gelap, berbentuk lonceng dan berbau seperti almond.
  • Buahnya bulat berwarna hitam keunguan dan dapat dimakan.
  • Batang dari tumbuhan cantigi sendiri bercabang banyak dan membentuk tajuk yang bagus. Percabangannya termasuk simpodial dimana batang pokok sukar di bedakan dengan cabangannya. Batangnya berkayu (lignosus) sangat keras dapat tumbuh membesar karena memiliki kambium vaskular.
  • Jenis ini tersebar di seluruh Jawa di atas 1.350 m dpl, namun umum ditemukan pada 1.800 – , 3.340 m dpl dan mendominasi Hutan Sub Alpin. Di Kersik Luway jenis ini tumbuh dengan sangat subur meski ketinggian tempatnya hanya sekitar 60 m dpl. Di kawasan Cagar Alam Kawah Ijen hanya ditemukan pada ketinggian di atas 2.000 m dpl. Di Gunung Papandayan, Tangkuban Perahu, Gede Pangrango cantigi tumbuh mendominasi tumbuhan lainnya di sekitar kawah.
  • Tinggi pohon di lokasi ini rata-rata hanya sekitar 2,5 m, namun ada yang mencapai 5 m. Jenis ini sangat mendominasi kawasan. Jenis ini belum dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Potensinya adalah sebagai tanaman hias.
Kandungan
  • Cantigi tumbuh pada daerah sekitar kawah gunung berapi dengan kadar SO2
  • Daun cantigi mempunyai kandungan belerang yang tinggi,
  • Cantigi mempunyai daya tahan yang tinggi terhadap sklerosis yang biasa dialami oleh tanaman yang terkena pendedahan yang cukup lama dengan SO2.
Pemanfaatan
  • Daun dan buahnya mengandung antosianin yang berfungsi sebagai antioksidan. Penelitian yang pernah dilakukan sebagai antifidan, mengandung aglikon antosianin sianidin dan peonidin, ditemukan 34 senyawa kimia yang mudah menguap (terpenoid (80%) dan metil benzoate (18%).
  • Warna merah, biru, ungu, biru-hitam/unguhitam merupakan ciri-ciri yang mudah diamati dari tumbuhan yang mengandung antosianin. Antosianin adalah senyawa yang mengindikasikan adanya antioksidan. Antioksidan dalam antosianin dapat menimbulkan efek yang dapat membantu kesehatan mata.
  • Buah dan daun mudanya berkhasiat sebagai obat demam dan penyegar badan.
  • Buah dari Vaccinium varingiaefolium (Bl.) Miq sering dimanfaatkan sebagai sumber pakan oleh burung jalak gading.
  • Cantigi sangat bermanfaat sebagai penanda daerah kawah puncak dan pegangan pendaki di daerah yang terjal.
Kegunaan Dalam Keadaan Darurat
  • Buah dan daun muda cantigi dapat dimakan langsung jika terjebak tidak tersedia makanan di kawasan puncak gunung sub alpin.
  • Tumbuhan ini umum digunakan sebagai bivak alam dan survival di gunung.

DAFTAR PUSTAKA
Sadiyah, Esti Rahmawati. 2012. Studi Awal Kandungan Antosianin Pada Buah Cantigi Ungu. Bandung : Universitas Islam Bandung.
Suyitno. Dkk. 2012. Tanggapan Stomata dan Laju Transpirasi Daun Vaccinium varingiaefolium Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta.
Jurnal Bionatura, 2011. Aktifitas Antifidan Ekstrak Daun Cantigi (Vaccinium varingieafolium BI.Miq) Terhadap Plutella xylostella L. (LEPIDOPTERA: YPONOMEUTIDAE) (Wawan Hermawan)
Jurnal Sains dan Kesehatan. 2016. Vol 1. No 5. Karakterisasi Ekstrak Daun Cantigi (Vaccinium varingiaefolium Miq.)
Biodiversitas vol 5. 2012.Wihermanto. Tumbuhan Langka di TN Gunung Gede-Pangrango
Tags :

No comments:

Post a Comment